Rabu, 31 Juli 2013

Mengenal Sekilas Burung Ocehan Kacer



Burung ocehan yang satu ini sebenarnya sudah cukup banyak diketahui khalayak ramai, tetapi untuk nama ‘kacer’-nya sendiri tidak semua mengenalnya, karena ada beberapa daerah yang menyebut burung ini dengan sebutannya masing-masing. Dinamakan burung ‘Kacer’ belum dijelaskan secara harfiah, tetapi menurut saya mungkin disebabkan bunyi suara yang dikeluarkan ketika masih anakan berbunyi ‘cier....cier..cier’ sehingga sebagai tanda pengenalnya maka disebutlah burung Kacer. Jika dilihat dari penampilannya burung kacer seperti memiliki kesamaan dengan burung Murai Batu, yang berbeda hanya dari segi warna dan ukuran panjang ekor. Ukuran ekor burung kacer lebih pendek daripada Murai Batu.

Burung kacer jenis burung ocehan yang mudah untuk dipelihara dan juga umumnya memiliki perkembangan pertumbuhan yang cepat. Jika anda tidak percaya, anda dapat mencoba memelihara anakan burung kacer yang masih kecil, bisa 1 bulan setelah menetas dari telurnya. Dipastikan burung kacer anakan tersebut akan sangatlah congok/kuat dalam hal pakan. Jika mendengar suara sedikit saja ia akan langsung membuka lebar mulutnya seolah ingin menerima pakanan dari induknya. Tapi walaupun begitu, anda juga tidak disarankan terus-terus memberinya pakan ketika ia membuka mulutnya, bisa-bisa burung kacer tersebut mati kekenyangan.

Semenjak burung Murai Batu mengalami kelangkaan di alam liar, banyak pemburu burung yang melakukan pemburuan beralih ke burung kacer ini. Hal itu sangat mungkin terjadi, mengingat burung Kacer juga tidak kalah Merdu suara kicauannya, serta harga burung kacer yang juga bersaing. Biasanya burung Kacer yang diburu adalah yang berjenis kelamin jantan karena dari segi suara kicauan baik variasi ataupun kualitas suara, yang berjenis kelamin jantan lebih mencolok ketimbang berjenis kelamin betina. Ketidaktertarikan pemburu untuk mendapatkan burung kacer berjenis kelamin betina, berdampak positif bagi perkembangbiakan burung kacer itu sendiri di alam liar, paling tidak jumlah burung Kacer yang diburu masih bisa diimbangi oleh lahirnya anakan burung kacer baru. Untuk membedakan jenis kelamin burung kacer secara garis besarnya bisa kita liat dari ukuran bentuk tubuh. Burung kacer betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, kemudian untuk burung kacer jantan selain memiliki ukuran tubuh yang agak kecil juga pada bagian warna hitam di bagian leher memiliki warna hitam yang lebih mengkilap.

Burung kacer sangat banyak ditemukan di daerah Sumatera, lebih spesifiknya pada daerah yang ditumbuhi pohon kelapa sawit. Pelepah/batang kelapa sawit yang sudah di tunas mereka manfaatkan sebagai tempat membuat sangkar dan menaruh telur-telur mereka. Jadi untuk mendapatkan anakan burung kacer itu, banyak pemburu melakukan pengintipan, mengikuti pergerakan indukan burung kacer sampai masuk ke sarangnya. Namun hebatnya, kebanyakan sangkar yang dibuat pada pelepah/batang pohon kelapa sawit yang tinggi, yang sulit untuk di gapai, selain tinggi juga mereka menyukai membuat sangkar pada pohon yang memiliki pelepah/batang sawit yang sudah lapuk, tidak lain untuk menghindari dari serangan predator yang mengancam bakal anakannya, yah predator yang dimaksud salah satunya ‘manusia’.

Oleh : Roma Doni
Sumber Photo : Google.com